Iklans.com - “Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai” Dia melihatku agak terperanjat.
Raut mukanya tampak kelihatan merah. Dia agak tersipu setelah melihatku hanya memakai celana dalam. Aku bisa melihat dari ujung matanya dia melirik pada selangkanganku yang disitu tampak tercetak jelas penisku yang sudah tegang dari tadi seakan meronta keluar.“Sana mandi di dalam masih ada airnya kok” Dia menyambung.
“Iya Bu Anis” jawabku sambil masuk ke bilik.
Perasaanku puas dapat memperlihatkan kejantananku pada wanita paruh baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh semakin berkecamuk. Kebetulan sekali jam tangan Bu Anis tertinggal di dalam bilik bambu ini.“Bu Anis jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.
Aku menanti Bu Anis masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.
“Tolong ambikan Dod masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to” Bu Anis berkata dari luar bilik.
“Ah Bu Anis nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku semakin berani menggodanya.
“Ih kamu kok masih nakal to dari dulu” Dia berkata.
“Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung.
Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin menggebu-gebu ini. Aku lepas celan dalam ku hingga aku menjadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anis masuk kedalam bilik.
Bu Anis masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Dod.. kamu.. nga.. nga.. pain”
Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.
“Itu Bu Anis jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai.
Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka dengan cepat aku tutup pintu bilik.
Melihat perilaku itu Bu Anis kaget sambil menatapku dia berkata, “Dod apa-apaan ini”.
“Maaf Bu Anis.. ta.. pi.. Ibu sangat menarik bagi saya” aku semakin berani tanpa memikirkan akibatnya.
“Kamu.. sudah gila ya..” Dia berkata.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut.
“Aku sudah menduga kamu dari kejadian tadi malam, tapi kamu harus tahu bahwa Ibu sudah bersuami dan lagi Ibu kan sudah tua” Dia mencoba menyadarkan aku.
“Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan usia Ibu” Aku beralasan.
“Apa sudah kau pikirkan benar-benar” Dia menyahut.
“Su.. dah Ibu” aku berkata tanpa pikir panjang.
“Da.. sar.. kamu” Dia berkata lagi.
Aku mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Diluar dugaanku di tidak menghindar atau meronta namun sebaliknya dia menyambut ciuman hangatku dan membalasnya. Ciuman kami semakin dalam lidah kami saling bertautan tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas bokongnya.
Tiba-tiba dia berusaha melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, “Sabar Dod.. jangan terlalu bernapsu”
Dia mendorongku aku terduduk di pinggiran bak semen. Dia masih berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan dan pasti aku melihat dua bukit kembar yang masih tampah sekal.
Kini tinggal beliau hanya mengenakan kutang dan rok aku bangkit namun dia berkata, “Duduk dulu”.
Post Terkait
Aku kembali duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan kini terpampang didepanku tubuh sintal yang aku angan-angankan.
Aku bangkit lagi namun dia kembali berkata, “Dod.. aku suka dengan caramu menjeratku tapi ini harus menjadi rahasia kita saja”.
Dia berkata sambil meletakkan salah satu kakinya diatas bibir bak semen itu. Dadaku semakin berdegub kencang melihat pemandangan indah ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali.
“Tentu Bu Anis..” Aku menyahut.
Aku elus kakinya yang putih aku dekatkan wajahku dan mulai menciumi betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. Sampailah aku pada hutan yang rimbun itu dan lidahku mencoba menyibak mencari lobang yang paling dicari para lelaki. Baca selengkapnya!

0 Response to "Cerita Ngentot Anal Ibu Kepala Sekolah 2"
Posting Komentar